Ultah ke-4 Ariq Ahmad Wiza November 25, 2009
Posted by Riza Hirfan in Family.add a comment
24 November 2009 adalah tahun ke 4 di kehidupan Ariq. Seharusnya di update kemaren ya… Tapi gpp lah baru telat sehari. Alhamdulillah Ariq udah 4 tahun pada hari Selasa tanggal 24 November 2009 kemaren.
Harapannya apa nih ya…(doa ayah ama bunda nih) :
Moga jadi anak yang sehat, baik, pintar dan berbakti sama orang tua, agama dan negara .
Gak nakal lagi, ama ayah, bunda, adek n nenek. Teman-teman juga ya…
mo rajin belajar kan udah ayah beliin papan tulis ama buku gambarnya yang banyak, spidol ama pensil warnanya juga udah lo…,
gak suka ngengek lagi, kasihan ama bunda donk kan bikin pusing, kasihan ama adik afif juga kan suka terkejut dan nangis jadinya dengerin suara “geledek” abang.
Tahun ajaran baru udah harus mau sekolah ya… kemaren sepatu “lampunya” ama tas kan udah dibeliin kan. AC-nya jangan sekarang dulu ya , kan Ayah masih banyak hutang n lagian kan musim hujan, jadi dingin terus donk kamarnya. Lagian juga Abang kan gak mau pake selimut kalo bobo’, Ntar jadi demam karena kedinginan. OK ya nak…
5th Marriage Anniversary : Riza Hirfan & Dewi Putriani November 17, 2009
Posted by Riza Hirfan in Family.1 comment so far
Dari Ayah nih..:
Hari ini, ada berjuta kebahagiaan merekah tak terhitung memenuhi dada. Hal ini terutama karena, hari ini, kami memperingati 5 tahun usia pernikahan kami, tanggal 17 November 2009.
Betapa cepat waktu berlalu. Kami telah melalui masa-masa suka dan duka bersama sebagai pasangan suami istri, yang saling melengkapi, saling menggenapi.
Jadi tersenyum bersama mengingat masa-masa awal bertemu pertama kali dulu serta perjalanan kehidupan pernikahan yang penuh dinamika. Indah, lucu, getir dan juga mengesankan. Ya, memang demikianlah, cinta adalah mengalami. Merasakan. Mendalami. Meresapi.
Ketika menyadari untuk memilih sebagai pasangan hidup dan belahan jiwa, maka disaat yang sama, cinta itu harus senantiasa ikut bersama setiap jejak langkah kaki, sambil menautkan jemari, lalu berjalan bergandengan. Bersama. Aku menjadi bagian dari dirimu, begitupun sebaliknya, Dirimu menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku.
Ikatan perasaan mutual yang ada dari hubungan kita tumbuh mekar bersama pengalaman menjalani hidup bersamamu. Cinta mesti berada pada tataran esensi, bukan sekedar eksistensi, yang dipelihara dan dinikmati setiap detik proses melaluinya.
Bahwa dalam perjalanan cinta kerap kali terjadi letupan-letupan yang mengejutkan, kita senantiasa berusaha untuk mampu melerai dan menanggulanginya. Karena kita menempatkan cinta itu tidak sebatas kenangan dan pikiran. Ia adalah bagian dari interaksi antara kita untuk menjaga harmoni. Membuat “bara” nya tetap menyala hangat dalam jagad hati kita masing-masing.
Rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Tempat tinggal yang nyaman, pekerjaan, dan tentunya 2 malaikat kecil kita, Ariq dan Afif. Semua adalah amanah yang diberikan oleh Allah yang tentunya patut kita syukuri dan senantiasa kita jaga.
Untuk Ariq dan Afif mungkin masih banyak PR dan rencana terbaik yang masih belum bisa terlaksana untuk kebaikan mereka sekarang dan masa depan mereka, tentunya kita akan senantiasa terus berusaha yang terbaik untuk mereka.
Setelah 5 tahun berlalu, kita kembali menapak tilas perjalanan cinta kita. Berkaca pada cermin diri dan berjanji bersama untuk tetap berkomitmen memeliharanya secara intens dan berkelanjutan.
Ayah bersyukur kepada Allah SWT menjalani kehidupan pernikahan yang indah bersama Bunda dan juga kedua anak kita.
Jalan panjang dan terjal terbentang dihadapan kita, istriku sayang. Tapi yakinlah, bersama, kita akan melewati semuanya dengan penuh keyakinan dan ketegaran. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjaga kita dalam menempuh perjalanan itu.
Terimakasih telah menjadi istri yang hebat untuk Ayah dan Bunda yang luar biasa buat kedua anak kita selama ini.
Selamat Ulang Tahun Perkawinan ke-5..
Nih….Jawaban dan harapan bunda :
“ Maha suci Allah yang telah menciptakan semua makhluk-Nya berpasang-pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi dan dari mereka sendiri, maupun dari apa yang mereka tidak ketahui “ (QS. Yasin : 36)
Suamiku…
Maha Suci Allah SWT yang telah mempertemukan kita, menyatukan kita dalam cinta dan kasih sayang-Nya. Puji dan syukur tertinggi, kita telah melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah, menyempurnakan separuh agama ini. Hari ini lima tahun yang lalu, aku telah menjadi bagian dalam hidupmu, mengisi hari-harimu. Melanjutkan perjuangan suci menyampaikan risalah Allah, dan dakwah Rosulullah.
Suamiku…
Hari ini lima tahun lalu, kiranya engkaulah yang menjadi qiyadah dalam hidupku. Engkaulah yang akan membimbing setiap kelemahanku, mengisi kekosongan dan menambah kekurangan-kekurangan yang kumiliki dengan ilmu, nasehat dan cinta. Jadilah pemimpin yang senantiasa memimpin aku dalam ketaatan kepada Allah dan memimpinku meneladani kemuliaan sang pemimpin agung Rasulullah SAW.
Suamiku…
Hari ini lima tahun yang lalu aku telah menjadi istrimu. Mengarungi bahtera kehidupan bersama. Aku mungkin tak seindah bidadari impianmu, aku baru belajar menjadi bidadari, bidadari dunia. Maka bantulah aku menjadi istri yang shalihah, yang jika kau pandang maka engkau makin cinta, jika kau pergi aku sanggup menjaga kehormatan dan hartamu hingga kau merasa tenang karenanya. Seorang istri yang mampu mengurus rumahnya, mendidik anak-anak yang sholeh dan menjadi penyangga dakwah suaminya.
Suamiku…
Hari ini lima tahun yang lalu aku telah menjadi sahabat sejati bagimu. Sahabat yang akan menyertai saat sedih dan tawamu, senang dan susahmu, kaya dan miskinmu, bahagia dan sengsaramu. Insya Allah selama engkau berpegang teguh pada Allah dan Rosul-Nya aku akan setia di sisimu.
Suamiku…
Sebagai sahabat, mungkin aku bukan sahabat yang baik bagimu. Aku mungkin hanya menjadi ujian kesabaranmu, membebani pikiranmu dan memberatkan doa-doamu. Jadi bantulah aku memahami senyum dan tangismu, bantulah aku memaknai segala keinginan dan cita-citamu. Bantu pula aku memahami luapan emosiku, mengerti tawa, manja dan tangisku, memahami keinginan dan cita-citaku. Sahabat, bantu aku memerangi keegoan dan kelalaianku. Bantu aku mengenal diriku, mengenal Tuhanku. Bantu aku menjadi setegar Hajar, bantu aku menjadi sedewasa Khadijah, bantu aku menjadi sebijak ummu Sulaim, Bantu aku menjadi secerdas Aisyah.
Suamiku…
Hari ini setelah lima tahun kita lewati bersama, semua masih terasa manis, sejuk dan indah. Walau hari-hari kita tidak selalu cerah tetapi karena cinta dan keyakinan, kita dapat melaluinya. “kau adalah kehormatanku dan aku adalah kehormatanmu” motto itu yang selalu mengingatkan kita. Aku menyadari bahwa kaupun tidak setangguh Ibrahim, tidak sejujur Abu Bakar apalagi seagung Rosulullah. Namun dengan segenap kekurangan kita, cintalah yang menjadikannya sempurna. Semoga kita senantiasa saling memberi tanpa harus selalu menuntut.
Suamiku…
Perjalanan kita masih panjang, tantanganpun tidak semakin mudah, tanggung jawabpun tidak semakin ringan. Diantara kita telah hadir seorang makhluk polos yang lucu yang menjadi amanah kita berdua. Marilah kita saling membina meneladani Lukmanul Hakim yang senantiasa menjaga aqidah anak-anaknya, meneladani Ibrahim yang ikhlas, dan meneladani Rasulullah yang penuh kasih sayang. Mari mendidiknya menjadi anak shaleh, karena dia adalah investasi syurga bagi kita.
Suamiku…teman sejatiku. Kaulah yang akan menemani perjalanan fanaku di dunia dan Insya Allah di akhirat. Kita mulai kejayaan itu dari sini. Kita bangun pondasi aqidah yang kokoh, lindungi dengan tembok ilmu dan hiasi dengan akhlaq yang agung. Kita mulai kemuliaan islam dari pertemuan kita. Hari ini, esok dan hari-hari selanjutnya kita bekerja membangunnya, membangun benih peradaban, membangun keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah.
Ya Allah…
Sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan perkawinan ini sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan dan cinta kami kepada
Sunnah Rasul-Mu Muhammad SAW
Amin…







